Selain Kecelakaan Kerja, Pekerja Konstruksi Juga Berisiko Terdampak Penyakit Karena Sejumlah Alasan Ini

Risiko kecelakaan kerja pada pekerja konstruksi memang bisa diatasi dengan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab terhadap K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Walau demikian, area proyek tetap merupakan wilayah berisiko tinggi dan menyumbang persentase terjadinya cedera fatal pada para pekerja.

Bahkan hal yang kurang disadari, area konstruksi juga berpotensi mengganggu masalah kesehatan bagi para pekerja. Dikutip dari laman Health and Safety Executive, pekerja konstruksi punya risiko tinggi terjangkit penyakit kanker.

Setiap tahunnya diperkirakan ada lebih dari 5.000 kasus kanker dan sekitar 3.700 kematian akibat pekerjaan di area konstruksi. Adapun penyebab paling signifikan dari kanker tersebut adalah asbes (70%), silika (17%) yang bekerja sebagai pengecat, dan knalpot mesin diesel (6-7%).

Female worker in construction

Selain itu, beberapa proses di area konstruksi mengeluarkan debu, asap, uap atau gas ke udara dan hal tersebut menjadi penyebab paling signifikan masalah pernapasan dan penyakit paru-paru. Sejumlah pekerjaan terkait konstruksi pun berpotensi menyebabkan dermatitis karena kulit terpapar zat berbahaya.

Area konstruksi pun menyumbang potensi terganggunya indera pendengaran yang diakibatkan kebisingan dan getaran.

Kenapa Pekerja Berisiko Tinggi Kena Penyakit di Area Kerja?

  • Lingkungan lokasi konstruksi. Tidak seperti pabrik, pekerjaan konstruksi berlangsung di beragam lingkungan. Area yang berbeda inilah yang bisa menghadirkan berbagai risiko kesehatan, termasuk karena asbes. Tingkat risikonya bervariasi walau terdampak di lokasi yang sama.
  • Sifat dinamis pekerjaan. Lokasi konstruksi terus berubah dan sejumlah besar perdagangan mungkin melakukan tugas yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka dan orang lain.
  • Kesadaran risiko. Sering kali kesadaran akan risiko kesehatan cenderung rendah. Bahkan dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tahu kondisi kesehatan yang semakin memburuk. Konsekuensi langsung dari paparan tempat kerja yang berbahaya pun dianggap tidak signifikan dibandingkan dengan cedera karena kecelakaan kerja.
  • Ketenagakerjaan. Seringnya para pekerja berpindah lokasi kerja dari satu tempat ke tempat lain, membuat mereka sulit menjaga kesehatan. Bahkan sering punya sedikita atau sama sekali tidak ada kontak dengan profesional kesehatan kerja.

Baca juga: Langkah Apa yang Harus Dilakukan Pasca Kehilangan Orang Tercinta Akibat Kecelakaan Kerja di Area Konstruksi?

Risiko kesehatan para pekerja poyek bisa dikelola dengan mengikuti langkah-langkah, sebagaimana melansir dair laman Health and Safety Executive.

  1. Perlakukan kesehatan seperti keamanan. Artinya, pekerja mengelola risiko kesehatan ini tidak berbeda dengan mengelola risiko keselamatan. Langkah-langkah yang bisa diikuti mulai dari ‘Menilai’, ‘Mengontrol’, ‘Meninjau’.
  2. Setiap orang punya peran untuk dimainkan. Maksudnya, setiap individu yang terlibat dalam konstruksi memiliki tanggung jawab dalam mengelola risiko terhadap kesehatan. Masing-masing harus mengambil peran dari proses tersebut.

Ilustrasi - pengarahan pekerja konstruksi

  1. Kendalikan risikonya, bukan gejala. Dalam hal ini, program pemantauan dan pengawasan kesehatan saja tidak cukup. Meskipun keduanyamerupakan bagian efektif dalam mengelola risiko kesehatan, prioritas pertama adalah menghentikan orang-orang yang terpapar risiko sejak awal.
  2. Kelola risiko, bukan gaya hidup. UndangUndang mensyaratkan langkah-langkah yang harus diambil untuk mencegah atau mengendalikan risiko kesehatan terkait pekerjaan secara memadai.

***

Itulah alasan mengapa pekerja konstruksi juga berpotensi terpapar penyakit di lokasi proyek. Pada dasarnya, risiko tersebut pun bisa dikelola seperti dijelaskan sebelumnya.

Selain itu, perlindungan lain juga diperlukan bagi para pekerja konstruksi, mengingat risiko paparan penyakit cukup tinggi, sama seperti potensi cedera di tempat kerja. Salah satunya dengan melakukan antisipasi dari dampak lanjutan kecelakaan, seperti terkait biaya yang mungkin dikeluarkan untuk pengobatan maupun keperluan lainnya.

Kabar baiknya, ZINIUM® punya solusi dari permasalahan tersebut, yaitu Santunan Tukang Baja Ringan yang berlangsung mulai 1 September 2022 sampai dengan 31 Agustus 2023.

Melalui program yang diadakan oleh PT Sunrise Steel ini, para pekerja atau tukang/aplikator baja ringan yang membeli semua produk baja ringan bertanda dan berbahan ZINIUM®, berkesempatan mendapat santunan sampai dengan Rp100 juta.

Syarat lainnya adalah peserta merupakan warga negara Indonesia berusia antara 18-65 tahun dan tinggal di Indonesia ini menyertakan bukti atau nota pembelian saat mendaftar.

Peserta dapat mendaftar dengan mengisi data diri secara lengkap dengan menyertakan identitas diri (KTP/SIM) dan nota pembelian baja ringan berbahan ZINIUM ® berupa softcopy dengan klik mengunjungi website www.ziniumpeduli.com.

Ayo segera daftarkan diri agar bisa menjadi bagian dari penerima Santunan Pekerja ZINIUM® dengan nominal sampai dengan Rp100 juta!

Mau tahu info lebih lanjut? Hubungi HALO ZINIUM (jam kerja 08.00-16.00 WIB) di nomor 0811 305 60000 atau kirimkan email ke zinium.care@sunrise-steel.com.***

https://sunrise-steel.com

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*

error: Content is protected !!
WeCreativez WhatsApp Support
Customer Services